Setelah beranjak ABG, dunia tari yang ditekuninya sempat terhenti. Rupanya, ayahanda Sule yang penjual bakso keliling itu tak cukup biaya untuk anaknya menimba ilmu di sanggar. "Uang bapak hanya cukup untuk biaya sekolah anak-anaknya," kenang lelaki kelahiran Cimahi, Jawa Barat, 15 November 1976 itu.
Namun, tekad Sule menekuni tari tradisional Sunda sangat kuat. Dia pun memilih masuk Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI), di kawasan Buah Batu, Bandung, ketimbang SMA. Konsekuensinya, Sule harus mandiri. Untuk membiayai sekolah, ia cari sendiri dengan berjualan jagung rebus keliling kampung.
"Hidup elit alias ekonomi sulit, sudah nempel pada diri saya sejak lahir. Rasanya benar-benar pahit sekali. Karena itulah, keinginan yang terbesar saat itu, saya ingin mengubah hidup sebaik-baiknya dengan bakat yang saya miliki," ujar Sule penuh semangat.


0 komentar:
Posting Komentar